Tuberkulosis: Cara Penularan dan Langkah Pencegahan

Tuberkulosis: Cara Penularan dan Langkah Pencegahan

Posted By: dr. Evitrie Martarita 28 January 2022
articles image

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang masih menjadi masalah penting kesehatan masyarakat di dunia hingga saat ini dan salah satu penyebab utama kematian. Data dari Global Tuberculosis Report 2021 dipublikasikan oleh World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa di dunia ada 10 juta kasus TB dan 1,3 juta kematian TB negatif HIV serta 214.000 kematian TB-HIV. Kasus TB resistan obat yang medapat terapi berjumlah 150.359. Negara terbanyak berkontribusi kasus TB di dunia antara 2019 sampai 2020 antara lain India (41%), Indonesia (12%), Filipina (12%) dan China (8%) serta negara-negara lain.

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberkulosis complex. Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau sedikit melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul. Bakteri ini berukuran 0,3─0,6 µm dan panjang 1─4 µm, bersifat tahan asam pada pewarnaan sehingga disebut Basil Tahan Asam (BTA). Robert Koch seorang ilmuwan Jerman telah mempresentasikan hasil penelitianpada tanggal 24 Maret 1882 yang menemukan kuman penyebabTB. Ini penemuan yang sangat penting pada masa itu karena TB menjadi penyebab kematian utama di dunia. Tuberkulosis telah membunuh lebih dari 1 milyar orang di dunia dalam 200 tahun terakhir. Tuberkulosis merupakan penyakit menular dan menginfeksi anak maupun dewasa.

Tuberkulosis adalah penyakit yang menular lewat udara (airbone disease). Penularan TB melalui partikel kuman yang terbawa melalui udara disebut droplet nuklei pada waktu batuk atau bersin. Sekali batuk dapat menghasilkan 3000 percikan dahak yang dapat bertahan di udara hingga beberapa jam tergantung dari kondisi lingkungan. Pasien TB BTA positif merupakan sumber penularan utama penyakit TB. Droplet nuklei memiliki sifat aerodinamis sehingga dapat masuk ke saluran napas yang apabila jumlah kuman sedikit masih dapat dicerna oleh sistem kekebalan tubuh. Namun, jika jumlah kuman TB yang terdeposit melebihi kemampuan imunitas tubuh maka kuman akan bertahan dan berkembang biak di paru bahkan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar limfe ke otak, tulang, ginjal dan organ lain.

Risiko peningkatan paparan TB melalui kontak dengan sumber penularan, konsenterasi jumlah kuman yang terhirup, usia, tingkat daya tahan tubuh seseorang misalnya infeksi HIV/AIDS, gizi buruk dan faktor lingkungan seperti kelembaban,sinar ultraviolet dan ventilasi udara. Gejala dari infeksi TB terdiri dari gejala utam batuk berdahak lebih dari dua minggu serta gejala tambahan seperti batuk darah,sesak napas,badan lemas,penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, malaise, berkeringat di malam hari tanpa kegiatan fisik, demam subfebris lebih dari satu bulan dan nyeri dada. Namun, gejala di atas dapat tidak muncul secara khas pada pasien dengan koinfeksi HIV. 

Langkah-langkah pencegahan penularan TB dengan memahami dan melaksanakan etika batuk atau bersin antara lain gunakan masker, tutup mulut dan hidung dengan lengan atas bagian dalam atau tisu, buang di tempat sampah, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Terapkan pola hidup bersih dan sehat. Pandemi COVID 19 mengajarkan kita beradaptasi untuk pola hidup bersih dan sehat.

Pertemuan tingkat Perserikatan Bangsa Bangsa membuat target bahwa dalam kurun waktu 2018-2022 dunia harus menemukan dan mengobati 40 juta orang, memberikan terapi pencegahan dan peningkatan anggaran pengendalian TB di berbagai negara. Target “End TB Strategy” yaitu pencapaian penurunan insiden kasus TB sebanyak 80% dan penurunan kematian akibat TB sampai 90% pada 2030. Salah satu usaha pendekatan untuk menemukan, diagnosis, mengobati sampai sembuh dan mencegah penularan melaluiprogram TOSS TB ( Temukan dan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis) yakni temukan gejala TB di masyarakat, obati TB dengan tepat dan cepat serta pantau pengobatan sampai sembuh. Hal ini menjadi tugas kita bersama untuk memutus rantai penularan tuberkulosis.




Send Message for CIMSA