Stunting pada Anak

Stunting pada Anak

Posted By: dr. Zulia Ahmad Burhani, Sp.A 08 January 2022
articles image

Kita harus ingat bahwa tidak semua anak pendek termasuk stunting. Pendek terbagi atas dua, yaitu pendek yang dikategorikan normal dan tidak normal. Seorang anak dengan perawakan pendek yang memiliki ayah dan bunda yang juga memiliki postur atau perawakan yang pendek maka perawakan pendek pada anak tersebut termasuk kondisi normal, karena memang potensi tinggi genetik yang diwariskan oleh kedua orang tuanya, akan lebih pendek jika dibandingkan anak normal yang memiliki orang tua dengan tinggi yang normal.

Seorang anak dengan perawakan pendek karena memang telah didiagnosis menderita penyakit gangguan hormonal contohnya penyakit kekurangan hormon pertumbuhan, kekurangan hormon tiroid (hipotiroid) atau kelainan bawaan pada tulang seperti osteogenesis imperfecta, akondroplasi. Selain itu, perawakan pendek juga bisa terjadi karena kekurangan nutrisi (malnutrisi) atau penyakit kronis (menahun), ini lah yang dikatakan stunting, pendek karena kekurangan nutrisi atau penyakit kronis. Jadi, kalau anak yang ayah bundanya pendek, tidak bisa dibilang stunting. Atau, jika anak ada kelainan tulang juga tidak bisa dibilang stunting.

Stunting terjadi karena kurangnya asupan gizi pada anak dalam 1000 hari pertama kehidupan, yaitu semenjak anak masih di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya asupan protein. Stunting pada anak bisa disebabkan oleh masalah pada saat kehamilan, melahirkan, menyusui, atau setelahnya, seperti pemberian MPASI yang tidak mencukupi asupan nutrisi.

Selain nutrisi yang buruk, stunting juga bisa disebabkan oleh kebersihan lingkungan yang buruk, sehingga anak sering terkena infeksi. Pola asuh yang kurang baik juga ikut berkontribusi atas terjadinya stunting. Buruknya pola asuh orang tua sering kali disebabkan oleh kondisi ibu yang masih terlalu muda, atau jarak antar kehamilan terlalu dekat.

Stunting pada anak akan terlihat dari perawakan anak yang kerdil saat mencapai usia dua tahun, atau lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya dengan jenis kelamin yang sama. Selain pendek atau kerdil, anak yang mengalami stunting terlihat kurus, namun tubuh anak tetap terlihat proporsional. Sebagai catatan, biarpun anak terlihat proporsional, anak stunting juga akan mengalami gangguan perkembangan.

Anak dengan stunting akan mengalami penurunan tingkat kecerdasan, gangguan berbicara, dan kesulitan dalam belajar. Akibatnya, prestasi anak di sekolah akan buruk. Anak penderita stunting berisiko memiliki IQ di bawah 90. Artinya anak hanya mampu bersekolah paling maksimal hingga kelas 3 SMP. Dampak lebih jauh dari stunting adalah pada masa depan anak, dimana ia akan sulit mendapatkan pekerjaan ketika dewasa.

Anak dengan stunting juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, sehingga lebih mudah sakit, terutama akibat penyakit infeksi. Selain itu, anak yang mengalami stunting akan lebih sulit dan lebih lama sembuh ketika sakit.

Berbeda dengan stunting, anak yang pendek karena keturunan (ayah bunda nya juga pendek) atau istilah lainnya familial short stature, kondisi otaknya tidak terpengaruh oleh kondisi tubuhnya yang pendek. Meskipun sama sama terlihat pendek, anak dengan familial short stature memiliki perkembangan yang normal dan juga kecerdasan yang sama dengan anak lain yang lebih tinggi darinya.

Harus diingat, bahwa gangguan tumbuh kembang akibat stunting bersifat menetap, yang artinya tidak dapat diatasi. Namun, kondisi ini sangat bisa dicegah, terutama pada saat 1000 hari pertama kehidupan anak, dengan cara sebagai berikut:

  • Penuhi kecukupan nutrisi ibu selama kehamilan dan menyusui, terutama zat besi, asam folat, dan yodium.
  • Lakukan inisiasi menyusui dini dan memberikan ASI eksklusif.
  • Lengkapi pengetahuan mengenai MPASI yang baik dan menerapkannya.
  • Biasakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama sebelum menyiapkan makanan dan setelah buang air besar atau buang air kecil, meminum air yang terjamin kebersihannya, dan mencuci peralatan makan dengan sabun cuci piring. Semua ini dilakukan untuk mencegah anak terkena penyakit infeksi.

Tinggi badan itu bukan segalanya, tetapi yang juga harus dilihat adalah perkembangan milestone-nya dari semua aspek. Jangan terburu-buru menilai anak stunting. Pertumbuhan anak itu ada temponya, ada yang cepat dan ada yang lambat. Setiap anak pun memiliki pola tempo yang berbeda, bahkan dalamsatu keluarga. Karena itu, banyak anak yang pendek waktu kecil, tetapi saat masuk masa pubertas, tinggi badannya meningkat pesat.

Yang terpenting adalah lakukanlah pemantauan tinggi badan secara berkala dan berkelanjutan, sesuai dengan anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tentang pemantauan tumbuh-kembang anak, yaitu :

- Usia lahir sampai 12 bulan setiap 1 bulan

- Usia 12 bulan sampai 3 tahun setiap 3 bulan

- Usia 3 tahun sampai 6 tahun setiap 6 bulan

- Usia 6 tahun sampai 18 tahun setiap 1 tahun

Langkah selanjutnya adalah melakukan ploting pada kurva pertumbuhan di dalam buku KIA. Cara menentukan apakah anak normal atau pendek, bisa bunda simak disini.

Anak bertubuh pendek masih dapat ditolong sebelum menjadi stunting. Kesempatan itu hanya ada sampai anak menginjak usia 2 tahun. Jadi, ketika bunda mendapatkan hasil anak bunda termasuk pendek, segeralah ke dokter. Stunting itu sifatnya irreversible atau tidak bisa diubah kalau sudah kena. Bawa balita ke dokter spesialis anak karena hanya mereka yang bisa membedakan mana stunting dan bukan.




Send Message for CIMSA